About
Pada suatu masa, secara tidak sengaja saya diperkenalkan dengan satu dunia yang benar-benar baru dalam kehidupan saya yaitu “Peternakan“. Dunia ini sangat asing bagi saya, karena sangat bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan saya.
Sapi, adalah hewan ternak pertama yang demikian menarik perhatian saya karena hampir setiap saat, setiap waktu, selalu ada saja berita-berita mengenai hewan ternak yang satu ini. Oleh sebab itu, melalui blog ini saya mencoba merangkum aneka informasi mengenai sapi dari bermacam sumber , yang mungkin berguna bagi para pembaca dan pemerhati sapi di seluruh dunia.
Akan tetapi, pertama-tama ijinkanlah saya untuk mengucapkan terima kasih serta penghargaan sebesar-besarnya kepada sahabat-sahabat saya, yang telah memberi inspirasi, memberi dorongan, pengetahuan serta dukungan sehingga saya dapat membuat Blog “Dunia Sapi” ini, beberapa diantaranya adalah :
Dr.Ir.H.Rochadi Tawaf, mantan Pembantu Dekan Fakultas Peternakan Unpad ini adalah orang pertama yang memperkenalkan saya kepada dunia peternakan. Baru belakangan saya mengetahui, dibalik kesederhanaan penampilan dan sikapnya, beliau adalah salah seorang tokoh di bidang peternakan yang turut berperan dalam memajukan dunia peternakan di Indonesia. Bukan saja ahli mengenai masalah peternakan, beliau termasuk salah satu pembela nasib para peternak di Indonesia yang selama ini selalu terpuruk. Sebagai bukti, lihatlah perjuangan beliau melalui tulisan-tulisannya di media masa, juga melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan dan sosial seperti GKSI, PPSKI,HKTI, dll.
Yang kedua adalah keluarga besar Karnadi Winaga dan Darmadi Winaga. Keluarga ini adalah pendiri dan pemilik Rumah Pemotongan Hewan Karawaci Tangerang. Mereka adalah pendobrak tata niaga Rumah Potong Hewan Tradisional di Indonesia. Di tangan beliau, kesan Rumah Potong Hewan yang seram, kumuh, jorok dan bau terhapus sudah. Saat ini RPH Karawaci menjadi RPH swasta dengan jumlah pemotongan terbanyak untuk wilayah jabodetabek dan sekitarnya. Selain itu RPH Karawaci telah menjadi contoh bagi pembangunan RPH lain untuk masalah pengelolaan, management serta pengelolaan dan pengolahan limbah.
Yang ketiga adalah Anda Rukanda, yang telah memperkenalkan kepada saya dunia maya dan cara-cara membuat Blog. Berbulan-bulan sahabat saya ini menjadi teman berdiskusi mengenai keinginan saya membuat satu blog mengenai peternakan, khususnya untuk hewan ternak sapi.
Saya memang bukan penulis profesional ataupun ahli di bidang peternakan, sehingga mungkin ada beberapa bagian dari tulisan saya yang kurang tepat, atau bahkan mungkin kurang berkenan. Oleh sebab itu, kami mengharapkan banyak masukan dari anda untuk memperbaikinya, baik dalam hal teknis sampai masalah penulisan.
Untuk ini, saya akan sangat berterima kasih apabila anda bersedia untuk memberikan saran, kritik dan komentar baik melalui ruang komentar pada tiap artikel yang telah kami sediakan, maupun melalui email kami : abrianto@duniasapi.com, jika anda mengharapkan privasi.
Sebagai penutup, kami mengucapkan selamat datang di Dunia Sapi, dan silakan manfaatkan website ini sebaik-baiknya.
Hormat kami,
Pengelola

P. Abrianto Wahyu Wibisono










salam kenal
ma kasih udah mampir ke blog saya.
blognya unik…ga nyangka ada blog yg khusus bicara soal sapi
salam kenal
sampeyan ning ndi mas posisine, mbok aku diajari ternak sapi, sumprit pengen banget.
cuman ga punya lahan.
bisa nitip kah ke sampeyan?, joint gitu hehehe
-wahyu nurdiyanto-
Terima kasih juga atas kunjungan balasannya, sengaja membahas soal sapi, soalnya hewan ini banyak jasanya buat manusia, dan banyak yang belum tau.
Posisi aku di Bogor mas Wahyu, sambil belajar tentang sapi aku coba bikin blog ini. Mudah-mudahan ada gunanya.
Kalo mau belajar, mending bareng2 aja, kebetulan disini ada banyak ahli di bidang peternakan yang rela ditanya-tanyain dan murah bayarannya, cuma kopi segelas plus sepiring steak sapi….hehehe
salam kenal mas
Salam kenal juga. terimakasih atas kunjungannya.
Sudah seharusnya ada blog yang mbahas sapi,penting untuk pembangunan bidang peternakan.Internet kan dah masuk Desa,sapa tau dengan ini anak-anak sekolah ada yang mau bercita-jadi pengusaha exportir daging sapi,bukan malah mengimpornya… Oke..Salam sukses selalu..
Terima kasih atas kunjungan dan perhatian bapak ke Blog kami.
Ton….. pendek aja…hebbbbat… selamat
Ah…Kang Dida bisa aja. Yang hebat kan “guru” yang ngajarinnya…hehehe
Ton..konekin juga dengan komunitas sapi seperti ISPI, PDHI, PPSKI, GKSI, forum peternakan, di FB juga banyak supaya nambah cakrawala..
Kang Dida, saya ngga punya bahan-bahannya, ntar tolong dibantu yah.
gimana caranya kalau mau masukin artikel?
Pak , ada artikel ato buku yg mengulas managemen breeding sapi yang aplikatif. tq
Salam Kenal Mas Abriyanto, seneng banget dapat web yang ngomongim tentang sapi. saya Join juga di ternak-sapi@yahoogroups.com> untuk nambah wawasan tentang dunia persapian.
Semakin banyak yang membicarakan masalah sapi, mudah-mudahan semakin membawa kemajuan pada dunia peternakan sapi.
blognya bagus banget.
tapi belum di ungkap kalau usaha sapi bisa jadi milyuner.
konsepnya ada di website saya http://www.sugihwaras.info menu tentang kami
thanks
moh dahlan
Mas Abrianto,
Perkenalkan nama saya Suyana, mas kalau mau latihan atau konsultasi cara beternak sapi yg baik dan untung dimana ya? di Bogor apa cocok utk ternak sapi dan gimana keamanan di daerah Dermaga Bogor?
Mas, gimana kalau pembaca mau upload gambar-gambar sapi sebagai partisipasi terhadap web ini sekalian memperkaya komunikasi dengan pembacanya, kalau disetujui sediakan kolommnya, terimakasih…. salam
Mas, kalau pembaca mau upload foto atau gambar sapi di web ini gimana caranya? bagusnya sediakan kolomnya, sehingga komunikasi dengan pembaca lebih akrab…trima kasih..salam
Terima kasih atas saran dari Pak Dida. Saya akan coba sediakan kolom untuk menampilkan gambar-gambar kiriman dari para pembaca blog ini.
Untuk itu, silahkan mengirimkan foto/gambar dengan ketentuan sbb :
1. Ukuran pixel wide maximum : 1000
2. Mohon mencantumkan keterangan mengenai gambar/foto tersebut, seperti : tempat, tanggal, jenis, dll.
3. Dikirimkan ke alamat email : redaksi@duniasapi.com
bagus banget idenya bro…..namanya juga lucu “dunia sapi”…selamat & good luck…
Terima kasih…..
Kapan ikutan memelihara sapi ?. Biar Indonesia ngga kekurangan sapi……hehehe
Penggemar sapi
Saya penggemar sapi, tapi ngga mirip sapi lho mbak….hehehe
salam kenal mas..
Salam kenal juga mas Hendro. Tertarik dengan peternakan sapi juga ya mas ?
Ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku lulusan peternakan lho mas, tapi gawe ne malah jualan rokok. Lha kok tiba2 ada teman yang mau konsultasi soal sapi krn dia mau memulai berternak sapi 4 hari yang lalu, untung ketemu website ini. Jadi bisa belajar dulu buat remind kembali teori dan praktek di kampus dulu hehehehe…Bravo to http://www.duniasapi.com
Kalo lama ngga dipakai memang selalu begitu yah. Sekarang ini malah banyak lulusan dari peternakan yang kerja di perusahaan ataupun bank. Yang salah itu kurikulumnya atau memang lulusannya yang lebih suka kerja di kota?…..hehehehe
Hidup sapi… salam kenal mas..
Mas Abrianto, numpang nanya nih bgmn dgn prospek RPH spt karawaci jika diterapkan di luar Jawa ya.. utk mempelajari manajemen RPH nya yg profesional spt RPH Karawaci bgmn caranya nya.. trims..
Salam kenal juga mas Broto
Melihat kondisi RPH yang ada di seluruh indonesia serta ancaman pasar bebas, memang sudah seharusnya menerapkan profesionalisme seperti RPH karawaci. Sayangnya, hal itu memerlukan waktu serta dukungan banyak pihak seperti pemerintah, para importir serta tekad para pelaku bisnis demi kemajuan peternakan di Indonesia.
Begini loh mas, saya punya RPH di Medan. Namun pemotongannya masih secara sederhana. Kalau untuk melengkapin peralatan utk memotong sapi sehingga efisien dan efektif darimana informasinya ya mas? Lalu utk di RPH karawaci apakah RPH yg menyembelihkan sapi nya buat pedagang daging mas? Krn di medan pedagang daging eceran jg yg menyediakan tenaga utk penyembelihannya mas. Trims..
Perkembangan usaha RPH, sebenarnya tergantung kepada “sinergi” 3 pihak yaitu :
- Feedlot / Peternak
- RPH
- Pedagang Daging / Konsumen
Apabila masing-masing pihak bersedia bekerjasama untuk mengembangkan diri, maka bidang usaha peternakan sapi akan menjadi usaha yang sangat menguntungkan. Caranya antara lain adalah sbb:
Feedlot / peternak -> akan berusaha menghasilkan ternak sapi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam hal, ukuran, kwalitas daging, kontinyuitas serta harga yang bersaing.
RPH -> berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada Feetlod/peternak dan pedagang/konsumen dengan cara :
- Mempunyai sarana penampungan sapi yang baik sehingga proses rekondisi pasca pengiriman sapi dari feetlot/petani berjalan dengan sempurna.
- Dapat memberikan data yang benar kepada feedlot/peternak mengenai sapi hasil produksinya seperti, prosentase karkas, data kwalitas (warna, kandungan lemak,dsb),dll.
- Mempunyai sarana dan prasarana pemotongan yang baik untuk menjamin ASUH (Aman Sehat Utuh Halal) : kualitas daging sempurna dah higienis (sehingga daging tidak lekas busuk) , keamanan terjamin (daging tidak dicolong), kecepatan pemotongan (pedagang dapat berjualan sesuai waktunya),dll
- Memiliki manajeman yang baik sehingga perusahaan serta karyawan terjamin kehidupannya.
- Menerapkan “Animal Welfare“.
Pedagang Daging
- Mempunyai manajemen, kemampuan serta pengetahuan untuk mengoptimalkan penjualan dagingnya seperti bagaimana cara memotong daging yang baik, cara mengelola keuangan, dsb.
Inti dari semua ini adalah, apabila masing2 pihak dapat merasakan “keuntungan” maka usaha RPH akan dapat berkembang dengan baik. Jadi,mengembangkan RPH bukan hanya sekedar melengkapi dengan peralatan canggih tetapi harus memikirkan aspek2 lain yang saling berkaitan.
Salam, Abrianto
Terima kasih banyak atas informasi nya mas Abrianto, dapat menambah wawasan saya dalam dunia per sapi an. Mas, kalo saya mau studi banding ke RPH yang ada di Jawa bisa dibantu mas? Ya setidaknya akan lebih menambah wawasan lagi apabila terjun lansung ke lapangan. Trims mas..
Salam, Broto
Untuk kunjungan ke RPH, khususnya RPH swasta, sebaiknya bapak meminta surat pengantar dari dinas peternakan setempat yang ditujukan ke RPH yang akan bapak tuju. Karena tidak semua RPH bersedia menerima perseorangan untuk studi banding.
Untuk kunjungan ke RPH, khususnya RPH swasta, sebaiknya bapak bekerjasama dengan dinas peternakan setempat untuk mendapatkan surat pengantar. Karena tidak semua RPH mau menerima studi banding perseorangan, kecuali dengan dinas peternakan.
Ohhh…begitu ya Mas.. Baiklah akan saya upayakan untuk bekerjasama dengan dinas terkait. Terima kasih atas informasi nya mas.. Murah Rejeki ya..
Salam, Broto
Terima kasih.
Terima kasih sudah di ijinkan menyunting sebagian isi dari blog ini. Blog ini sudah saya link ke blog saya mas. Salam kenal.
Hi mas Anto.. jumpa lg neh. Mas bgmn sebaiknya jika di daerah kita persaingan harga daging sapi di pasar tradisonal sudah dalam keadaan chaos, artinya para pedagang sapi banting2an harga meskipun sudah disadari bahwa hal tsb akan mengakibatkan kerugian materi bagi pedagang sapi itu sendiri. Bagaimana dengan keadaan di Jakarta dan sekitarnya ya mas? Karena kalo prinsip pedagang daging ini kan yang penting “meja nya berdarah” yaitu meskipun diketahui bahwa apabila daging akan dijual dengan harga dibawah harga pasaran akan merugi, tetap akan dijual juga. Apakah ada suatu paguyuban atau sejenisnya yang bisa memayungi kerjasama antara pedagang daging agar tidak berlomba2 banting2an harga? Sebagai informasi bahwa di Sumut tidak menggunakan sistem karkas dalam pemotongan sapi. Terima kasih atas perhatiannya mas Anto…
Pak Broto,
saya mau sharing… berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama ini sebagai berikut… biasanya pedagang daging ada batas minimal harga yang dia akan jual.. batas minimal ini sama dengan jumlah konsumen yang beli.. dengan ukurannya adalah waktu lamanya daging di gantung atau akan rusak.. menjelang itu, biasanya muncul para pembeli borongan yang memiliki alat pendingin atau prosesor bakso.. untuk mengindari jatuhnya harga tersebut, sebaiknya pedagang daging eceran berkumpul dan memiliki prosesing bakso atau dendeng.. pada waktu tertentu, daging-daging yang ngga laku di proses menjadi bakso atau dendeng oleh prosesor yang ditunjuk… hasilnya… pada keesokan harinya mereka menjual kembali bakso dan dendeng buatan mereka sendiri… sehingga kerugian dapat dihindari… semoga bermanfaat…salam