Kaledo dari Kaki Sapi
Di satu tempat di kota Palu, terlihat seseorang sedang duduk di meja makan. Dihadapannya terlihat peralatan makan yang lengkap, garpu, pisau, sumpit dan pipet. Pipet ?, alat untuk meminum obat untuk anak-anak itu ? Ya.
Lantas, hidangan apakah yang akan disantap oleh orang tesebut?. Steak ?, ternyata bukan. Dihadapannya memang terhidang sejenis makanan berbahan dasar dari bagian tubuh sapi yang dinamakan “Kaledo” . Hidangan ini merupakan makanan khas dari masyarakat di Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu, yang terbuat dari tulang kaki sapi dengan sedikit daging yang menempel pada tulangnya. Jadi, kegunaan Sumpit dan Pipet itu adalah untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut
Kaledo adalah sejenis masakan berkuah bening agak kekuningan. Aroma dan rasanya khas, yakni perpaduan dari kesegaran rasa asam, gurih dan pedas. Kesegaran Kaledo diperoleh dari penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan pun khusus, yaitu asam jawa yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda akan digerus bersama daging buahnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning keruh dan rasanya cenderung lebih manis, sehingga mengurangi kesegarannya.
Sedangkan untuk memperkaya rasa, pada saat menghidangkan, kaledo dilengkapi dengan “bawang goreng khas Palu” yang terkenal renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama, serta sambal yang ditumbuk kasar , dan jeruk nipis.
Bagi masyarakat di Sulawesi Tengah, Kaledo merupakan hidangan special pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan “burasa” , yaitu beras yang diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus. Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus.
Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar yang terdiri dari beberapa suku seperti :
Suku Jawa, ini adalah orang pertama datang ke tempat itu, maka mereka mendapat bagian daging sapi yang empuk, maka dibuatlah menjadi baso/ bakso.
Suku Makassar yang datang kemudian, menurut cerita mendapat bagian jeroan (isi perut sapi), yang kemudian diolah menjadi coto Makassar.
Sementara orang suku Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki sapi. Karena tidak ingin mengecewakan keluarga yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun tetap dibawa pulang. Dengan segala keahlian dan ketrampilannya, tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah makanan lezat yang disebut sebagai KALEDO, yang merupakan singkatan dari KAki LEmbu DOnggala.
Artikel Terkait :
- Kebesaran Allah pada sekerat daging sapi
- Cara Sehat Makan Daging Sapi
- Resep membuat Abon Sapi
- Resep Kaki Lembu Donggala
- Daging Sapi Empuk
- Daging dan Susu Tidak Baik Untuk Kesehatan
- Daging “Sandung Lamur” Sapi
- Daging “Sampil” Sapi
Sumber :
- entertainment.kompas.com
- wisata.voucher-hotel.com
- ediwicak.co.cc










Minta ijin untuk link/copy foto2 kaledo ini di website saya.
http://dapursaji.com/kaledo/
kalau tidak berkenan, mohon sampaikan kepada saya via e-mail.
silahkan di copy-paste, asal mencantumkan sumbernya. Thank You.