Manajemen Perawatan Sapi Perah Bunting

Manajemen Perawatan Sapi Perah Bunting
09 Jan
2017

"Perawatan sapi perah bunting tidak cukup hanya dengan memberi pakan yang baik."

Sekarang ini semakin banyak orang beternak sapi. Namun tidak semua peternak memahami cara memelihara sapi dengan baik. Sampai saat ini, produksi sapi perah Indonesia belum mencukupi kebutuhan susu nasional. Salah satu penyebabnya adalah manajemen pemeliharaan yang kurang profesional. Perawatan hewan sapi tidak cukup dengan memberi pakan yang baik serta kandang yang nyaman, melainkan juga memahami kondisi setiap hewan ternak di peternakan.

Salah satunya sebuah situasi khusus yang akan dialami setiap sapi betina, yaitu kebuntingan. Masa bunting seekor sapi merupakan masa paling krusial karena menjadi penentu kualitas keturunan yang akan dilahirkan. Sapi perah bunting harus mendapat perawatan khusus sampai tiba waktunya melahirkan. Kebutuhan yang wajib diperhatikan adalah makanan serta kesehatan. Pemberian pakan berkualitas rendah menimbulkan efek buruk pada calon anak sapi.

Seekor sapi bunting sangat membutuhkan gerak badan untuk memudahkan proses kelahiran. Peternak sebaiknya menempatkan sapi bunting di kandang khusus dan melepaskannya di padang rumput setidaknya 2 jam/hari. Sapi yang mengalami stres di masa bunting berisiko terkena Retentiosecundinarium atau ketinggian ari. Beberapa perawatan sapi bunting yang harus dilakukan yaitu:

 

Masa kering
Adalah masa pemberhentian pemerahan susu selama kurang lebih 2 bulan. Tujuannya supaya tubuh induk memiliki cadangan makanan serta memanfaatkan vitamin dari pakan yang dimakan. Dengan demikian, pertumbuhan anak sapi di dalam kandungan tetap terjaga. Ada 3 macam proses pengeringan yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Pemerahan berselang; Pemerahan dilakukan secara berselang sampai akhirnya tidak dilakukan sama sekali hingga sapi melahirkan. Contoh, pemerahan sehari sekali, 2 hari sekali, dan 3 hari sekali sampai akhirnya berhenti.
  • Pemerahan tidak lengkap; Pemerahan susu dilakukan setiap hari. Namun tidak semua puting diperah. Pemerahan tidak lengkap berlangsung beberapa hari sampai akhirnya tidak diperah sama sekali.
  • Pemerahan mendadak; Sebelum dilakukan pemerahan mendadak, sapi bunting mendapat obat penguat 3 hari sebelumnya. Selain itu makanan hijau seperti rumput dan tanaman dikurangi, yaitu hanya ¼ dari biasanya. Langkah ini menjadi lebih efektif jika dikombinasikan dengan pemerahan berselang, yaitu mampu memperkecil gangguan kesehatan ambing.

 

Pemberian Pakan

Pemberian pakan akan memengaruhi kesehatan induk dan calon anak sapi. Oleh sebab itu, komposisinya perlu diperhitungkan guna meminimalkan masalah metabolik di masa melahirkan atau setelahnya.Di awal masa kering, sapi mendapat sedikit hijauan dan penghentian konsentrat. Kemudian di akhir masa kering, hijauan diberikan seperti biasa dan pemberian konsentrat ditingkatkan.

 

Kebutuhan kandang

  • Ukuran ideal sebuah kandang sapi bunting adalah 2,5x7x1 meter dan dibentuk koloni berisi 3 sampai 4 ekor sapi bunting. Kandang ini tidak diberi sekat, sebab sapi memerlukan ruang gerak. Lantai kandang tidak boleh terlalu miring atau melebihi 50 untuk menghindari jatuh akibat tergelincir.
  • Kebersihan kandang harus selalu dijaga kebersihannya agar sapi tidak mengalami sakit parah. Pun pembuangan air di dalam kandang perlu diperhatikan. Jangan sampai ada genangan air di dalam kandang.
  • Kemudian, induk sapi sebaiknya mandi dengan larutan pencuci hama supaya terhindar dari bakteri dan virus.

 

Perawatan sapi bunting dilanjutkan sampai memasuki fase melahirkan dan laktasi. Setelah melahirkan, sapi tidak boleh diperah karena anak sapi membutuhkan gizi yang cukup dari kolostrum yang dihasilkan. Jeda waktu penghentian pemerahan setelah melahirkan berkisar antara 1½ sampai 2 bulan lamanya. Setiap peternak seharusnya diwajibkan menerapkan cara ternak sapi seperti ini supaya produksi susu semakin meningkat.

Program Pendidikan & Pelatihan

Semua Tentang Sapi

ANEKA OLAHAN DAGING SAPI

Bursa Produk Peternakan