Sejarah Sapi Perah Di Indonesia

Sejarah Sapi Perah Di Indonesia
13 Feb
2015

"Bagi yang menggemari minuman susu kaleng, pasti sudah tahu bahwa mayoritas susu kaleng yang dijual di supermarket berasal dari produksi sapi perah."

Selain kambing, domba, dan unggas (dengan ayam sebagai jumlah terbanyak dari kelompok unggas), sapi juga termasuk sumber protein hewani yang penting dan dikonsumsi oleh banyak masyarakat. Tidak heran bila banyak sekali peternakan sapi, baik yang untuk mengembangbiakkan sapi penghasil susu maupun sapi potong atau sapi yang  menghasilkan daging.

Menurut hasil riset pada tahun 2005 lalu dari Kementerian Riset dan Teknologi, ternak sapi dapat menghasilkan sekitar 50% kebutuhan daging di dunia. Untuk produksi susu, sapi dapat memberikan sampai 95% kebutuhan susu untuk seluruh dunia.

Singkat  cerita, konsep peternakan sapi, baik sebagai sapi perah maupun sapi potong, sudah dimulai kira-kira sejak 400 SM dan kemungkinan bermula di Asia Tengah, sebelum mulai menyebar ke Eropa, Afrika, hingga keseluruhan benua Asia. Sapi ras Ongole yang aslinya berasal dari India dikirim ke Pulau Sumba menjelang akhir abad ke-19.

Kemudian sapi Ongole dikawinsilangkan dengan sapi ras Red Deen pada 1957. Untuk menyesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia, sapi ras peranakan baru pun dihasilkan melalui kawin silang antara sapi peranakan Ongole-Red Deen dengan sapi ras Frisian Holstein. Di Lembang, perusahaan peternakan sapi perah sudah ada sejak 1900-an. Bahkan, di Cisarua dan Lembang juga terdapat pembibitan sapi perah untuk ras Frisian Holstein murni.
    
Jika Anda menyempatkan diri untuk melakukan perjalanan wisata ke Boyolali, Jawa Tengah, Anda dapat melihat banyak peternakan sapi. Mengingat Boyolali adalah daerah pegunungan, wajarlah bila tempat tersebut sangat ideal untuk perkembangan ternak sapi. Sejak awal, Boyolali juga termasuk salah satu cikal bakal berkembangnya usaha peternakan sapi selain Pengalengan dan Lembang (di Jawa Barat) serta Pujon dan Nongkojajar (di Jawa Timur).
    
Untuk dapat membedakan ras-ras sapi, baik yang murni maupun peranakan, Anda harus melihat-lihat gambar-gambar tiap sapi. Meski demikian, agak sulit membedakan antara sapi perah dengan sapi potong, karena sapi perah yang kemudian sudah tidak bisa berlaktasi lagi juga berakhir menjadi sapi potong.

Ada sapi yang berwarna cokelat seperti Red Danish, yang diimpor pada tahun 1956 dari Denmark, meski ternyata tidak bertahan lama di Indonesia. Bahkan, sejak Pusat Penampungan Susu (Milk Collectting Centre) berdiri di Grati pada tahun 1950-an, perusahaan atau koperasi yang bergerak di bidang produksi susu hasil dari sapi perah semakin banyak.

Seperti, Koperasi Bandung Selatan (KPBS) yang berdiri pada tahun 1967 di Pengalengan (sebelum berbadan hukum resmi pada tahun 1979), Koperasi Peternakan dan Pemerahan Susu SAE (Sinau Adandani Ekonomi) di Pujon pada Tahun 1962 (sebelum berbadan hukum resmi pada tahun 1983), dan Koperasi Peternakan Lembu Perah (KPLP) “Setia Kawan” yang berdiri pada tahun 1967 di Nongkojajar (sebelum berbadan hukum resmi pada tahun 1978).

Sumber: id.wikipedia.org, www.totoharyanto.com, jualansapi.com

Di tag dibawah

ANEKA OLAHAN DAGING SAPI

Artikel Tentang Sapi Perah

Artikel Tentang Ternak Sapi Yang Layak Dibaca

Artikel Tentang Sapi Potong

HOT NEWS !!!

"Menyatukan Tekad Melalui Kongres Nasional Peternak Rakyat"

klikdisini