Pada tahun 2016 pemerintah membuat kebijakan yang sangat kontroversial yaitu membebaskan impor daging kerbau dari India (Indian Buffalo Meat = IBM), yang tertuang dalam Permentan No. 17/2016, SK Mentan No. 2556/2016 dan PP No. 4/2016. Kebijakan tersebut, bertolak belakang dan menerabas UU No. 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diputuskan oleh MK pada tanggal 7 Februari 2017 tentang perkara No. 129/PUU-XIII/2015 bahwa kebijakan importasi produk hewan, dilarang dari negara yang belum bebas PMK (Penyakit Mulut dan Kuku). Namun, pada kondisi negara dalam keadaan darurat dapat dilakukan importasi dari negara yang memiliki zona wilayah bebas PMK. Saat itu, diketahui bahwa India, merupakan negara yang tidak memiliki zona dan belum bebas PMK
Sesungguhnya, kala itu kebijakan tersebut dilatarbelakangi atas permintaan industri prosesing daging karena produknya tidak mampu bersaing dengan produk industri daging dari negara tetangga. Faktor utama penyebabnya, karena mahalnya biaya produksi bahan bakunya. Maka, dipilih IBM, karena harganya sangat murah dan dapat mensubstitusi kebutuhan daging sapi bagi industri prosesing daging. Selain itu pemerintah berkepentingan pula untuk menurunkan harga daging sapi, yang cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun.
Namun faktanya, import IBM yang semula hanya ditujukan bagi industri proesing daging, ternyata distribusinya disebarkan ke seluruh konsumen rumah tangga di pasar-pasar tradisional sentra konsumen daging nasional. Dampak dibukanya kebijakan ini, importasi daging sapi dan IBM tumbuh pesat (35%) sejak tahun 2016-2022. Sementara itu IBM tumbuh 19 %. Importasi IBM mampu menggeser menurunkan importasi sapi hidup. Volume import sapi bakalan menurun drastis sejak tahun 2016-2023. Berdasarkan jumlahnya sapi bakalan yang dikonevrsi setara daging di tahun 2016 (119.976 ton) menurun di tahun 2023 (56.347 ton).
Menurunnya volume import sapi hidup dan meningkatnya daging sapi khususnya IBM, mengindikasikan bahwa importasi IBM cukup menjanjikan bagi para importir ketimbang sapi hidup. Sesungguhnya intervensi IBM ini diharapkan akan menurunkan harga daging sapi nasional pada posisi Rp. 80.000,00/kg. Namun realitanya, harga IBM yang terangkat ke atas menyamai harga daging sapi lokal sekitar Rp. 100.000,00 – Rp. 120.000,00 per kg. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kehadiran IBM, telah memberikan peluang pedagang daging eceran di pasar tradisional melakukan oplosan daging segar yang berasal dari sapi lokal dengan IBM. Kondisi inilah yang merugikan peternak rakyat, karena jumlah pemotongan sapi lokal pun menurun drastis sekitar 30% di wilayah Jabodetabek (Daud, 2019).
Dalam melakukan aksinya (mengoplos), para pedagang daging di pasar tradisional melakukan thawing (mencairkan) daging beku IBM. Proses thawing ini yang diduga kuat menjadi salah satu penyebab terjadinya wabah PMK di Indonesia beberapa waktu lalu. Pasalnya, pasca wabah PMK belum ada hasil penelitian yang kredibel mengenai ketelusuran terjadinya wabah PMK. Secara ekonomi, kehadiran IBM di pasaran semula diharapkan dapat berpengaruh kuat terhadap gonjang ganjing fluktuasi harga daging yang terjadi selama ini. Namun, kehadirannya tidak memberikan pengaruh apa-apa. Bahkan inflasi pun tidak dipengaruhinya. Manfaat kehadirannya hanya dinikmati oleh para pedagang dan importir daging IBM. Mereka bisa meraup keuntungan yang menggiurkan dengan selisih marjin yang signifikan. Selain itu, partisipasi konsumen daging sapi yang hanya 7,76 % (soedjana 2023) tidak perduli terhadap terjadinya fluktuasi harga. Pasalnya, mereka merupakan kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Sesungguhnya, yang selama ini merasa risau terhadap kenaikan harga daging hanya industri prosesing daging bukannya konsumen daging rumah tangga.
Berdasarkan atas berbagai fenomena tersebut, pada tanggal 16 Mei 2025 lalu Kementrian Koordinator Bidang Pangan telah merevisi kuota import IBM yang semula 200 ribu ton menjadi 100 ribu ton untuk tahun 2025, dan menambah volume impor sapi bakalan menjadi 534 ribu ekor.
Untuk menghidari kemungkinan peluang berulang terjadinya resiko munculnya wabah PMK maupun penyakit hewan menular strategis lainnya, sebaiknya importasi IBM di kembalikan sesuai dengan tujuan awalnya, yaitu bagi keperluan industry prosesing daging. Hal ini sejalan dengan prinsip membangun peternakan sapi potong menurut Soehadji (1996), yaitu dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut; bahwa peternakan rakyat merupakan tulang punggung, kegiatan usaha penggemukan (feedloter) sebagai pendukung, dan import daging merupakan variable penyambung. Pasalnya, nilai tambah yang diperoleh dari importasi sapi bakalan dalam bisnis usaha penggemukan memberikan dampak ekonomi yang cukup luas diperdesaan. Sedangkan, importasi daging sapi/kerbau nilai tambahnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan impor sapi bakalan. Prinsip inilah yang harus tetap digunakan sebagai dasar bagi pengembangan peternakan di Indonesia, karena menciptakan iklim kondusif bagi perkembangan peternakan sapi domestik.
Cari tahu lebih lanjut tentang daging kerbau import dari India...
Pelajari sejarah perjalanan bisnis feedlot dari awal kemunculannya hingga menjadi...
Ketahui penyebab kenaikan harga hewan kurban tahun ini serta dampaknya...
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran kabinetnya untuk menghapuskan kuota impor...
Memilih bibit sapi yang berkualitas adalah langkah pertama dalam meningkatkan...
Usaha sapi potong merupakan salah satu bisnis peternakan yang memiliki...
Dalam industri peternakan, sapi menjadi salah satu hewan ternak yang...
Dalam dunia bisnis peternakan sapi, inovasi menjadi salah satu kunci...
Industri peternakan sapi di Indonesia memiliki prospek yang sangat menjanjikan....
Bisnis sapi potong merupakan salah satu usaha di sektor peternakan...
Bisnis ternak sapi adalah salah satu sektor peternakan yang memiliki...
Beternak sapi merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan, terutama bagi...
Usaha ternak sapi merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan di...
Usaha ternak sapi merupakan salah satu bisnis yang memiliki prospek...
Leave A Comment