Loading...
iden

Beralih Menjadi Peternak Sapi, Kini Jadi Pengusaha Sukses di Indonesia

Sukses hanya pantas disematkan kepada mereka yang telah lebih dulu mengalami kegagalan. Hal ini bukanlah isapan jempol belaka. Banyak contoh di dunia ini, orang-orang yang berhasil mencapai puncak kesuksesan setelah mengalami kegagalan besar. Hal ini pula yang pernah terjadi pada Malin Nasir. Sempat bangkrut menjadi petani cabai, kini pria Minang tersebut menjadi pengusaha sukses di Indonesia khusus bidang peternakan sapi.

Pria yang akrab disapa Malin itu adalah pemilik peternakan Tanjung Abadi. Usaha peternakan sapi tersebut berlokasi di Tanjunglurah, Salimpauang, Tanah Datar, Sumatra Barat.

Sukses yang diraihnya saat ini adalah buah dari gagalnya usaha pertanian yang pernah ia lakoni sebelumnya. Jauh sebelum meneguk manisnya sukses bisnis sapi, Malin sudah pernah merasakan kesuksesan dari dunia pertanian. Kala itu, ia melakoni profesi sebagai petani sayuran, yaitu cabai.

Tanpa berbekal pengalaman sama sekali, Malin saat itu mengelola kebun cabai yang akhirnya mengantarkannya menjadi pengusaha sukses di Indonesia. Capaian itu bahkan ia raih saat Indonesia didera krisis ekonomi tahun 1988. Tentu saja, kesuksesan ini adalah sebuah hal yang ‘langka’ - di mana kebanyakan orang justru perekonomiannya terpuruk.

Berkat kesuksesannya bertanam cabai tersebut, ia bisa membangun rumah untuk keluarganya juga membeli mobil pick up untuk mendukung usahanya. Lepas beberapa tahun pasca masa keemasannya tersebut, kebun cabai Malin diserang hama penyakit. Kondisi ini tak pelak membuat kondisi perekonomian keluarganya goyah.

Rugi besar tak dapat dihindari. Bermodalkan sisa laba kebun cabai yang ‘hanya’ Rp 9 juta, ia kemudian memutuskan untuk beralih profesi menjadi peternak.

Tak seperti saat menanam cabai yang tanpa bekal ilmu apapun, kali ini Malin lebih hati-hati. Ia pun rajin menimba ilmu baik dari buku, majalah maupun penyuluh juga peneliti. Malin memulai pergulatannya dengan dunia peternakan tak langsung dengan memelihara hewan ternak, melainkan dengan menanam lahannya dengan rumput dan membuat kandang kapasitas 12 ekor serta sumur.

Modal Rp 9 juta yang ia miliki pun habis untuk kebutuhan tersebut. Wal hasil, ia pun kemudian memelihara 2 ekor sapi milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Jurus ini ternyata menjadi permulaan yang baik untuk bisnisnya. Keuntungan mulai bisa dirasakan Malin dan semakin lama ternaknya semakin berkembang.

Kebangkrutan di masa lalu sebagai petani cabai tanpa bekal pengalaman sepertinya menjadi pelajaran penting bagi Malin saat menekuni bisnis ternak sapi. Ia pun aktif tergabung dalam kelompok tani di wilayahnya, yaitu di Tanjung Lurah beserta beberapa peternak lainnya.

Berkat keseriusan Malin dan kelompoknya dalam beternak sapu, dinas terkait pun akhirnya melakukan pembinaan dan memberikan bantuan peralatan dan bangunan. Bantuan pun kemudian berdatangan, mulai dari sapi, kandang peralatan chopper dll, biogas, rumah kompos, kendaraan angkut, dan berbagai hal lain yang dibutuhkan untuk kebutuhan peternakan sapi.

Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) pun kemudian juga memberikan bimbingan ke peternakan Malin terkait teknologi pakan dan pengolahan limbahnya. Sejauh ini teknologi yang telah diterapkan oleh peternakan tersebut adalah jerami fermentasi dan teknologi Ragur 100, untuk fermentasi kulit kakao juga teknologi pengolahan kompos.

Teknologi Ragur 100 yang dimaksud adalah pencampuran ragi tape, gula, urea masing-masing 100 gram yang dilarutkan dalam 20 liter air, lalu diaerasi dengan aerator aquarium selama 48 jam atau 2 hari 2 malam. Larutan tersebut selanjutnya digunakan untuk memfermentasi kulit kakao.

Malin sendiri menggunakan ragur 100 tidak hanya untuk kulit kakao, melainkan juga untuk sayur afkir, terong, buncis dan lain-lain. Usai jadi, racikan tersebut lantas digiling dengan hamer mill, sehingga menjadi jus dan kemudian diberikan pada sapi.

Di tengah bisnis peternakan sapinya yang mulai berkembang, Malin pun mulai berninovasi. Ia bahkan mampu membuat pupuk kompos dan pupuk cair dari air seni sapi yang memiliki ekonomi. Ciamiknya lagi, meski pupuk kompos dan pupuk cair dari hasil air seni sapi itu dibuat tanpa menggunakan alat modern, tetapi sudah lolos uji laboratorium pertanian. Hal ini menandakan bahwa pupuk racikan Malin bisa diperjualbelikan untuk petani.

Dengan inovasi ini, tak dipungkiri Malin bisa mendapatkan penghasilan yang ganda. Bukan hanya dari usaha peternakan sapi, melainkan juga dari menjual pupuk racikannya tersebut. Satu hal yang patut dicontoh dari peternakan milik Malin adalah rapi, asri dan bersih - seperti peternakan yang ada di luar negeri. Tak ayal, peternakannya pun bisa menjadi tempat peristirahatan bagi sejumlah kalangan.

Dengan label sebagai pengusaha sukses di Indonesia yang telah diraihnya tersebut, kini Malin menjadi sosok penting di daerahnya. Di samping sibuk dengan usaha pembibitan dan budi daya sapi di peternakannya, ia juga sering kali menerima kunjungan dari Dinas Peternakan setempat terkait studi banding.

Pria lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) itu pun justru kini menjadi ‘guru’ dalam hal usaha pembibitan dan pembudidayaan sapi. Realita ini sugguh sejalan dengan ungkapan lawas yang menyebut ‘pengalaman adala guru terbaik’.

Meski ia tak menempuh pendidikan tinggi di bidang peternakan, tetapi ia telah memiliki banyak pengalaman dalam hal beternak sapi hingga mengantarkan menjadi pengusaha sukses di Indonesia.

--------------------------------

LOKASI PENJUALAN PRODUK

 

 iklan media tanam karya subur 2Media Tanam "KARYA SUBUR"

Rp15.000

 

pupuk organik sumber subur

Pupuk Organik "SUMBER SUBUR"

Rp20.000

 

sate maranggi duniasapi 1

Sate Maranggi

Rp35.000

--------------------------------

 

"Pil Sapi" Bukanlah Obat Untuk Sapi

Pil adalah suatu sediaan berbentuk bulat atau bulat telur, mengandung satu atau lebih bahan obat untuk pemakaian dalam. Salah satu contohnya adalah pil sapi. Namun Pil Sapi bukanlah nama sebenarnya, melainkan nama yang populer dikalangan penggunanya. Nama aslinya adalah pil Trihex atau THP, dengan nama generik atau istilah kimianya adalah Trihexyphenidyl. Baca Selengkapnya...

KOHE ++ Untuk Media Tanam Pupuk Rp10.000/Pack

Mikroba, memiliki banyak peran penting, termasuk untuk menyuburkan tanah dan menghasilkan tanaman yang berkualitas dan berkuantitas tinggi. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menambah jumlah mikroba yang ada di dalam tanah. Mikroba atau mikroorganisme hidup yang dapat memberikan efek baik atau kesehatan pada organisme lain disebut sebagai probiotik.

Prof. Dr. I Ketut Sutama, Pakar Ruminansia Dari Universitas Udayana

Prof. (Riset). Dr. Ir. I Ketut Sutama adalah Peneliti Utama dalam bidang penelitian Fisiologi Reproduksi (Fisiologi Reproduksi Ternak), saat ini bekerja pada kelompok peneliti di Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Read More...

Sebagai Hidangan, Lebih Baik Daging Sapi Atau Kambing?

Daging sapi dan daging kambing tergolong jenis daging merah yang bergizi tinggi. Berdasarkan…

Suka Jeroan Sapi? Kuliner Ini Pasti Favorit Anda

Lagi-lagi Jalan Suryakencana di Bogor, menghadirkan kuliner yang sangat menggoyang lidah. Setelah…

Fluktuasi Harga Daging Sapi, Siapa Yang Diuntungkan?

Kenaikan harga daging sapi ketika mendekati Lebaran menjadi fenomena yang terjadi setiap tahun di…

Siapa Menyangka Food Truck Berawal Dari Bisnis Sapi?

Yang dimaksud dengan Food Truck adalah sebuah konsep bisnis produk makanan ataupun minuman dengan…
  • Toko Duniasapi

    Berlokasi di seputaran wilayah Tajur di Kota Bogor, Toko Duniasapi menyediakan berbagai produk yang berhubungan dengan sapi, mulai dari kuliner, hingga pernak-pernik. Kami memiliki 20 tahun pengalaman menangani berbagai kegiatan peternakan khusus sapi (silahkan lihat liputannya di Tabloid KONTAN), oleh sebab itu hanya produk-produk pilihan yang ditawarkan disini, yaitu:
Try Bone Carving to Complete Your Traveling in Bali

Try Bone Carving to Complete Your Traveling in Bali

Its natural beauty and unique culture make Bali become one of the most famous and popular tourist destinations in the world. This island of gods is always crowded with visitors and tourists all over the year. Besides its culture and nature, the arts also become one of the tourist attractions in Bali. From dances, paintings, sculptures, and carvings. For you who love carvings, you should try bone carvings when you are traveling to Bali, especially to Tampak Siring.