Loading...
iden

Haji Mat Aji, Pengusaha Sukses Mulai Dari Nol Hingga Menjadi "RAJA SAPI"

Bak roda kendaraan, kehidupan pun demikian, terkadang berada di bawah, terkadang pula berada di atas. Di mana pun posisinya, sebaiknya manusia tetaplah harus berusaha, agar tetap bertahan hidup bahkan menjadi kemajuan dan memperbaiki taraf hidupnya sendiri. Hal ini pula yang telah coba dilakukan oleh Haji Mat Aji, pengusaha sukses mulai dari nol hingga memiliki peternakan sapi skala besar.

Nama tersebut kini tak asing lagi dalam bisnis jual beli sapi. Pria yang berasal dari Desa Adi Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah tersebut tak lain adalah seorang pengusaha sukses mulai dari nol, yang mengawali karirnya sebagai seorang buruh peternakan, hingga akhirnya bisa dikatakan sebagai ‘rajanya peternak sapi di Lampung’.

Motivasi di balik keinginannya menggeluti dunia tersebut cukup sederhana, ingin agar jumlah sapi di Lampung dan sekitarnya semakin banyak. Keinginnanya akhirnya terwujud dalam proses yang sama sekali tidak singkat.

Berkat ternak sapi pula ia sampai bisa menunaikan Rukun Islam ke-5, yaitu Haji. Tak mengherankan jika pun  akrab disapa dengan Haji Sapi.  Berikut adalah ulasan 'sejarah Sang Haji Sapi' dari menjadi buruh hingga akhirnya merajai bisnis peternakan sapi di Lampung. Mat Aji lahir dari keluarga transmigran asal Lamongan, Jawa Timur di Lampung sekitar tahun 1960-an.

Pria kelahiran 1965 itu terang-terangan mengaku jika dulunya keluraganya hidup pas-pasan. Latar belakang ekonomi keluarga yang demikian membuat dirinya menghabiskan masa remaja untuk turut banting tulang membantu orang tua. Pekerjaan apapun dilakoninya, meskipun berupa kerja kasar, seperti menjual rokok bahkan mengojek.

Malang tak dapat dihindari, mujur tak bisa ditolak! Ungkapan ini tampaknya pas untuk menggambarkan kondisi Mat Aji kala itu. Kehidupan ekonomi keluarganya yang sulit membuatnya  harus menjadi tukang ojek. Namun, profesi inilah yang kemudian mengantarkannya berkenalan  dengan ‘sapi’ - yang di kemudian hari mengantarkannya pada kesuksesan besar.

Saat ia menjadi tukang ojek itulah, muncul keinginan Mat Aji untuk ‘berkecimpung di dunia sapi’. Suatu hari, ia pun mendapatkan penumpang yang merupakan pedagang sapi yang kemudian menjadi pelanggannya. Sering antar jemput ‘si pedagang sapi’, Mat Aji pun memperhatikan kehidupannya yang tampaknya enak menjadi pedagang sapi.

Oleh karena serig menjemput pelanggannya tersebut dan mengantar ke pasar sapi, ia pun banyak berkenalan dengan banyak pedagang lainnya. Mat Aji pun lantas mendapatkan kepercayaan untuk ikut jual beli sapi. Ia mendapatkan pinjaman modal untuk memulai usahanya tersebut. Satu modal pokok yang menyertainya adalah ‘kejujuran’ yang akhirnya mendapat banyak kepercayaan dari pedagang atau pemilik sapi. Usahanya tak sia-sia hingga akhirnya mampu meraup keuntungan sekitar Rp 1 juta pada 1983-an. Angka tersebut sangat besar untuk ukuran pada waktu itu.

Pada tahun 1986, ia mengawali kiprahnya di dunia perternakan sebagai buruh. Pekerjaannya adalah menuntun sapi kemana-mana. Tak puas dengan apa yang dilakoninya, ia pun lantas memberanikan diri terjun di bisnis peternakan sapi. Pada 1988-1990 sapinya sudah berjumlah 10-30 ekor.

Sekitar dua windu kemudian, jumlah sapinya sudah bertambah semkain banyak. Tak tanggung-tanggung di atas lahan peternakan seluas 1 hektar, pria yang juga menjadi Anggota Dewan  Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) itu, terdapat 1.000  ekor sapi. Untuk mengurus sapi-sapinya itu, Haji Mat Aji pun mempekerjakan 10 orang pekerja.

Sapi-sapi yang dipeliharanya adalah sapi-sapi lokal seutuhnya. Dari 1.000 sapi yang dipelihara, 300 ekor diantaranya berupa sapi indukan. Adapun jenis-jenis sapi itu diantaranya adalah Sapi Limosin, Sapi Simental, Sapi Bali, Sapi Ongol, Sapi PO, dan sebagainya.

Sapi-sapi tersebut memiliki bobot  berkisar antara 700 kg hingga 1 ton per ekor sapi. Oleh karena jumlah sapi peliharannya mencapai 1.000 ekor, tak mengherankan jika dalam setiap bulannya terdapat banyak pula bayi sapi yang lahir Tak tanggung-tanggung, sekitar 30 ekor sapi lahir setiap bulannya. Angka ini merujuk dari laporan detik finance, (18/2/2016), sehingga jika diperhitungkan dengan jumlah yang konstan kelahiran sapi setiap bulannya, maka saat ini jumlahnya sudah jauh lebih banyak dari 1.000 ekor.

Masih merujuk pada data yang sama, sapi perahnya dijual ke berbagai daerah, termasuk ke DKI  Jakarta. Mat Aji menjual sapinya dengan hitungan per kilo gram bobot hidup. Kala itu, sapi-sapinya dibanderol Rp44.000-45.000/kg bobot hidup. Dalam setiap bulannya, ia mampu menjual hingga 15 ekor sapi.

Mengkalkulasi jumlah sapi yang dijual dengan harga per kilo gram bobot hidup, untung yang diraup Mat Aji sangat besar. Meski demikian, bukan berarti ia tak menemui kendala dalam menjalan bisnis jual sapi lokal ini. Kenaikan harga pakan merupakan salah satu masalah klasik yang berimbas pada kerugian peternak.

Apalagi ditambah dengan jumlah permintaan yang tidak menentu. Menyikapi hal ini, sebagai peternak Mat Aji pun harus pandai-pandai melakukan ‘manuver’. Satu kunci yang tak boleh dilepaskan dalam bisnis ini adalah selalu tekun dan disiplin, sehingga berbagai masalah yang dihadapinya tak membuat usahanya gulung tikar.

Demikian kisah hidup Mat Aji, pengusaha sukses mulai dari nol di bisnis jual beli sapi. Semoga menginspirasi!

--------------------------------

LOKASI PENJUALAN PRODUK

 

 iklan media tanam karya subur 2Media Tanam "KARYA SUBUR"

Rp15.000

 

pupuk organik sumber subur

Pupuk Organik "SUMBER SUBUR"

Rp20.000

 

sate maranggi duniasapi 1

Sate Maranggi

Rp35.000

--------------------------------

 

"Pil Sapi" Bukanlah Obat Untuk Sapi

Pil adalah suatu sediaan berbentuk bulat atau bulat telur, mengandung satu atau lebih bahan obat untuk pemakaian dalam. Salah satu contohnya adalah pil sapi. Namun Pil Sapi bukanlah nama sebenarnya, melainkan nama yang populer dikalangan penggunanya. Nama aslinya adalah pil Trihex atau THP, dengan nama generik atau istilah kimianya adalah Trihexyphenidyl. Baca Selengkapnya...

KOHE ++ Untuk Media Tanam Pupuk Rp10.000/Pack

Mikroba, memiliki banyak peran penting, termasuk untuk menyuburkan tanah dan menghasilkan tanaman yang berkualitas dan berkuantitas tinggi. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menambah jumlah mikroba yang ada di dalam tanah. Mikroba atau mikroorganisme hidup yang dapat memberikan efek baik atau kesehatan pada organisme lain disebut sebagai probiotik.
kandang sapi Adikelana Adiwoso

Adikelana Adiwoso: Dari Kantor Mewah Kini Berkutat di Kandang Sapi

Bisnis memang identik dengan keberanian mengambil keputusan, sekalipuan terdengar ‘tidak enak’ pada awalnya. Pengalaman ini pula yang sempat dirasakan oleh Adikelana Adiwoso, pendiri PT Juang Jaya Abadi Farm (JJAF). Sebelum akhirnya sukses mengelola kandang sapi miliknya sendiri, ia harus mengambil keputusan berani untuk mundur dari jabatan mentereng di sebuah perusahaan konglomerat Read More...

Sebagai Hidangan, Lebih Baik Daging Sapi Atau Kambing?

Daging sapi dan daging kambing tergolong jenis daging merah yang bergizi tinggi. Berdasarkan…

Suka Jeroan Sapi? Kuliner Ini Pasti Favorit Anda

Lagi-lagi Jalan Suryakencana di Bogor, menghadirkan kuliner yang sangat menggoyang lidah. Setelah…

Fluktuasi Harga Daging Sapi, Siapa Yang Diuntungkan?

Kenaikan harga daging sapi ketika mendekati Lebaran menjadi fenomena yang terjadi setiap tahun di…

Siapa Menyangka Food Truck Berawal Dari Bisnis Sapi?

Yang dimaksud dengan Food Truck adalah sebuah konsep bisnis produk makanan ataupun minuman dengan…
  • Toko Duniasapi

    Berlokasi di seputaran wilayah Tajur di Kota Bogor, Toko Duniasapi menyediakan berbagai produk yang berhubungan dengan sapi, mulai dari kuliner, hingga pernak-pernik. Kami memiliki 20 tahun pengalaman menangani berbagai kegiatan peternakan khusus sapi (silahkan lihat liputannya di Tabloid KONTAN), oleh sebab itu hanya produk-produk pilihan yang ditawarkan disini, yaitu:

Australia Feels Threatened by The Model of Meat Selling Through Social Media in Indonesia

Nowadays, people can buy anything using social media such as Instagram to fulfill your needs without going to the store directly. You can buy anything including meat. However, this selling model can disturb the trade of Australian cattle traditionally. This worry is delivered right away by the entrepreneur who has the Australian cow trade, Jimmy Halim. Indonesian people prefer chicken which is freshly cut from the traditional market right away.