Loading...
iden

Apakah Pulau Ini Masih Menjadi Pusat Produksi Sapi Madura?

Apa yang terpikirkan dalam benak Anda saat mendengar nama pulau Madura? Ya, sebagian besar dari Anda pasti terpikirkan tentang Sapi Madura yang dipacu disatu arena yang dikenal dengan istilah ‘Karapan Sapi’. Tak dipungkiri, pulau yang ada diujung timur Jawa itu memang kondang berkat atraksi budaya balap sapi tersebut. Berkat Karapan Sapi itu pula, masyarakat Madura dikenal di seantero Indonesia, selain juga kebiasaanya berdagang sate ayam. Berhembus pula kabar jika lantaran masyaratnya yang menggemari sapi itu, Madura digadang-gadang menjadi pusat produksi sapi nasional.

Isu ini sebenarnya sudah berhembus sejak kuartal ketiga 2019 lalu. Merujuk pada paparan Antaranews.com dalam sebuah arrtikel berjudul ‘Sapi Madura, antara nilai ekonomi dan identitas sosial’dan diunggah pada 10 Oktober 2019, Pulau Madura diproyeksikan sebagai pusat produksi dan budidaya sapi di Jawa Timur.

Mengacu pada data yang ada hingga September 2019, di Madura terdapat 1.004.226 ekor, atau sekitar 5,8 persen dari populasi sapi nasional. Tak mengherankan jika kemudian Pemerintah Propinsi Jawa Timur memproyeksikan Madura menjadi sentra pengembangan sapi.

Di balik alasan proyeksi tersebut dan tingginya angka populasi sapi tersebut, ternyata urusan adat ikut mempengaruhi. Seperti diketahui, masyarakat Madura memang dikenal memelihara sapi. Hal ini memang tak terlepas dari eksistensi Karapan Sapi. Namun, di luar itu, kegemaran itu juga membawa dampak positif tersendiri bagi upaya penyediaan kebutuhan daging sapi untuk swasembada daging sebagaimana dicanangkan oleh pemerintah pusat.

Kegemaran masyarakat Madura memelihara sapi bahkan bisa dibilang merata di seluruh kabupaten, mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan hingga Sumenep. Meski demikian, tak dipungkiri jika pemeliharaan sapi Madura oleh masyarakat belum bisa menjadi pendongkrak ekonomi keluarga. Merujuk pada hasil penelitian akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Peni Wahyu Prihandini, diketahui bahwa sapi Madura memiliki nilai cultural, historis sekaligus sebagai tabungan.

Hanya saja, usaha ternak sapi yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat di Pulau Garam ini, belum bisa memberikan sumbangan pendapatan yang signifikan. Namun, kontribusi terhadap pendapatan keluarga hanya 18-28 persen saja. Hal ini dipicu lantaran kebiasaa memelihara sapi itu masih sebatas sebagai usaha sambilan dan belum menjadi cabang usaha. Masyarakat pun juga hanya memelihara sapi lantaran sebagai kesenangan bukan sebagai pokok usaha.

Di luar faktor tersebut, belum optimalnya pemeliharaan sapi Madura dipicu oleh ketersediaan pakan saat musim kemarau. Dikenal sebagai Pulau Garam, tak dipungkiri jika saat musim kemarau tiba mendapatkan pakan memang sulit di Madura. Banyak rumput dan tanaman mengering, belum lagi masih dipicu kekurangan air bersih.

Meski demikian, membuat pulau Madura sebagai sentra pengembangan sapi demi mewujudkan swasembada daging nasional bukan mustahil. Sebagaimana diungkapkan oleh Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam, bahwa masih ada peluang yang bisa dikembangkan dengan adanya kekurangan kebutuhan daging sapi nasional, seperti dilakukannya intensifikasi sapi Madura.

"Kebutuhan daging nasional kita itu sekitar 686.270 ton, atau kurang sekitar 256.280 ton, dan jika dilakukan intensifikasi sapi Madura secara maksimal, saya yakin, swasembada daging nasional kita akan terpenuhi, sehingga tidak perlu lagi melakukan impor daging," katanya kala itu.

Optimisme ini juga dibarengi dengan kebiasaan masyarakat yang gemar memelihara sapi. untuk karapan dan sapi sonok. Kedua sapi ini memang dipelihara dengan ‘cara tak biasa’ dibandingkan dengan kebanyakan sapi di peternakan umumnya. Perlakukan khusus itu dipicu oleh penggunaan sapi dalam acara tradisi. Selain itu, Sapi Madura  itu memang juga dikenal memiliki kualitas yang baik.

JUAL CEPAT

Tanah di Jalan Raya Puncak, Rp5 Juta Per Meter Persegi Read More...

tanduk kerbau

ALAT PIJAT KERIK TERAPI GUASA DARI TANDUK Rp21.000

Tanduk, sudah sejak lama digunakan cara untuk pengobatan tradisional Cina yang disebut gua sha. Gua artinya kerok atau gosok, sedangkan sha berarti kemerahan. Tidak main-main, terapi ini sudah dipraktekkan sejak 2.000 tahun silam. Bahkan dapat dikatakan Gua Sha adalah kerokan ala Cina.

Baca selengkapnya...