Menelusuri Mitos Tentang Sapi yang Bisa Memprediksi Prakiraan Cuaca Besok Hari

Benarkah hewan ternak seperti sapi bisa membuat prakiraan cuaca besok? Pertanyaan tersebut mungkin terdengar cukup lucu, tetapi juga tak bisa disepelekan. Pertanyaan tersebut nyatanya memang diikuti dengan sejumlah kebetulan yang mengarah ke sana.

Menurut mitos yang banyak berkembang di masyarakat, sapi akan menunjukan perilaku yang berbeda jika cuaca akan berubah menjadi buruk. Beberapa perilaku tersebut diantaranya adalah sering memukul-mukulkan ekor mereka untuk mengusir serangga atau berbaring di atas rumput dalam waktu yang cukup lama.

Dikutip Liputan6.com (05/01/2017) dari Mirror.co.uk, pertanyaan tersebut bahkan diajukan sebagai studi ilmiah oleh University of Arizona dan Northern Missouri. Dari hasil penelitian yang dilakukan, hal itu kemungkinan tidaklah benar karena sapi biasanya berbaring untuk menjaga rumput di sekitarnya tetap kering, sehingga perut mereka tetap hangat.

Namun begitu, terdapat juga pendapat lainnya yang diutarakan oleh Dr. Jamieson Allen dalam kesempatan wawancara di Modern Farmer. Menurut kesimpulannya, perilaku sapi yang berbaring di atas rumput kebanyakan bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti kelelahan, kepanasan, atau mengalami stress.

Ditambahkan oleh Allen, pada dasarnya sapi akan berdiri jika merasa kepanasan dan akan sering berbaring saat kedinginan. Pernyataan tersebut tidak semata-mata disimpulkan begitu saja oleh pria yang jadi narasumber tersebut. Diakuinya bahwa ia telah melakukan penelitian dengan mengamati dan mempelajari penyebab utamanya. Menurutnya, ada sekitar 100 alasan yang dapat mencetuskan kecenderungan perilaku demikian. Namun begitu, dua diantaranya lebih mengarah kepada fakta yang sering terjadi.

Sapi kebanyakan akan berdiri jika merasa haus dan cenderung bergerak menuju air. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki insting yang kuat dalam menemukan sumber air. Namun begitu mereka tidak pandai menemukan tempat untuk minum di luar kandang mereka. Oleh karenanya, sapi perlu berjalan lebih banyak sebelum menemukannya. Hewan memamahbiak ini juga punya kecenderungan untuk bersantai seperti tidur siang. Dalam sehari, bahkan hewan-hewan ternak tersebut dapat berbaring hingga 14 jam.

Salah seorang juru bicara lainnya juga mengatakan kepada Mirror.co.uk, secara spesifik sulit untuk memperkirakan seberapa sering sapi bangun atau berbaring. Namun dari semua penjelasan yang ada, akhirnya ditemukan sebuah penjelasan sederhana yang lebih ilmiah terkait dengan perilaku-perilaku tersebut, yaitu bahwa sapi memang mampu merasakan kelembaban udara yang meningkat. Hal ini menggerakan insting mereka untuk mempertahankan sepetak rumput agar tetap kering.

Dari segi fisik, kaki sapi mengandung struktur pori mikro yang dapat dengan cepat menyerap kelembaban di sekitarnya. Disebabkan sebelum hujan biasanya diikuti dengan tanda-tanda peningkatan pada kelembaban, maka saat itulah struktur pori mikro mulai banyak menyerap. Lama kelamaan sapi tidak mampu menopang bobot tubuhnya, sehingga mereka lebih memilih untuk berbaring.

Kelembaban yang meningkat karena hujan biasanya akan mengundang serangga seperti nyamuk terutama dalam kandang. Biasanya sapi akan sering mengibas-ngibaskan ekornya untuk mengusirnya. Hal ini juga yang mungkin terkadang kerap dikait-kaitkan bahwa sapi bisa mengetahui kedatang hujan.

Tak hanya kemampuan dalam membuat prakiraan cuaca besok, menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Jepang, sapi juga mampu mendeteksi bencana alam. Jauh-jauh hari sebelum bencana gempa datang beberapa sapi biasanya akan menunjukan penurunan produksi susu dalam jumlah drastis.

Berbicara tentang hewan yang dapat memprediksi cuaca, bukan hanya sapi saja yang diperkirakan memiliki kemampuan tersebut. Sejumlah hewan lainnya juga diperkirakan mampu memberikan tanda-tanda akan cuaca hingga tanda-tanda alam.

Seperti yang dikutip oleh idntimes.com (10/08/2018), beberapa binatang memang memiliki kelebihan dalam mendeteksi prakiraan cuaca besok. Salah satunya adalah anjing yang mampu mencium atau mengamati perubahan suhu udara sesaat sebelum badai atau gempa bumi terjadi. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki sensitivitas indra perasa lebih kuat 10 ribu kali dibandingkan dengan manusia.

Selain itu, perilaku hewan gajah juga bisa menjadi tanda-tanda akan kondisi bencana yang akan datang, seperti memberontak hingga berlari sambil mengeluarkan suara keras lewat belalainya. Disebutkan bahwa gajah memang memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi bencana seperti tsunami, karena ketajaman dari indera pendengaran mereka dapat mengetahui perubahan gelombang elektromagnetik.

Selain kedua hewan yang telah disebutkan, ada begitu banyak hewan lainnya yang disebut-sebut memiliki kemampuan yang sama, diantaranya adalah kucing, kuda, burung, hiu, katak, serangga, tupai tanah, dan masih banyak lagi.

Secara sifat, sapi adalah hewan yang cenderung perlu dibimbing dalam melakukan beberapa hal. Meski demikian, mereka tetap jenis hewan yang cerdas dan memiliki insting kuat, seperti pertahanan diri (survival response) untuk mendeteksi bahaya pemangsa lain.

Beberapa bagian indera dari sapi juga memiliki sensitivitas yang tinggi, seperti pada indera penciuman atau pengamatan melalui mata. Beberapa sapi dengan sifat yang liar atau jinak juga kadang kala menunjukan kecenderungan perilaku yang berbeda dalam aktivitas sehari-harinya.

Dari sejumlah pemaparan di atas, kebenaran bahwa sapi memiliki kemampuan dalam mendeteksi prakiraan cuaca besok masih sangat abu-abu karena kecenderungan sifat yang ditunjukannya berbeda-beda. Hewan tersebut juga tidak bisa diandalkan sepenuhnya untuk mengetahui perkiraan cuaca yang akan datang karena kecenderungan yang ditujukan tidaklah selalu akurat. Akan tetapi, hal tersebut pastinya tetap sangat menarik untuk ditelusuri.