idarzh-CNenhi

Perawatan Super Sapi: Mulai Dari Makanan Enak, Punya KTP Hingga Menguji Teknologi 5G

Anda pasti pernah mendengar atau bahkan sudah pernah mencicipi makanan enak jenis steak wagyu yang harganya mahal.  Tentu, Anda bertanya-tanya apa yang membuat steak itu selangit harganya. Ya, salah satu faktornya lantaran daging steak wagyu dibuat dari sapi dengan perlakuan perawatan ekstra. Seperti apa perawatan super sapi itu? Berikut ulasannya.

Seorang peternak sapi di kota Matsusaka, Jepang bernama Tochigi mempunyai cara khusus untuk menghasilkan daging wagyu berkualitas. Bir menjadi pengganti air putih atau mentah sebagaimana diminum kebanyakan sapi. Saat diminumi bir, Tochigi juga memijat sang sapi untuk melancarkan peredaran darahnya.

Tochigi memberikan juga memberikan makanan enak berupa jagung dan kedelai kualitas terbaik,  sebagai makanan sapi selama kurang lebih empat tahun. Kemudian menjual sapi betina kelas premiumnya, karena dagingnya lebih banyak lemak yang sangat enak dan empuk ketimbang daging Kobe.

Harga yang dibanderol juga tidak main-main. Sapi-sapi premium ini dijual dengan harga Rp 6,6 milyar. Lepas mendapat keuntungan, Tochigi kerap menangis saat harus melepas sapi kesayangannya.

Beberapa restauran wagyu rela merogoh kocek ratusan juta untuk membeli sapi mewah ini. Restauran wagyu Gyugin yang terkenal di Jepang mengaku bisa menjual tiga iris daging wagyu seharga sekitar Rp 2,2 juta.

Daging wagyu juga bisa diolah sebagai makanan enak dengan bentuk bento khas Jepang. Bento Wagyu bahkan bisa dijual seharga 292.929 yen atau sekitar Rp 37 juta, harga bento termahal di dunia, demikian menurut informasi dari Japan-forward.

Selain minum bir, berikut kisah-kisah sapi yang mendapat ‘keistimewaan’ berupa makanan enak. Apa saja ya, simak dibawah ini?

 

 

SAPI MAKAN COKLAT DAN BISKUIT

Hal ini pasti terdengar aneh, bukan? Sapi umumnya diberi makan rumput, jerami dan jagung. Namun, sapi-sapi di peternakan Mayura Station, Australia Selatan ini justru mengonsumsi makanan seperti layaknya manusia.

Sapi-sapi ini diberi makan cokelat, permen, biskuit. Cokelatnya juga merek-merek kelas dunia seperti Cadbury. Wah, jadi ngiri deh!

Apa alasan pemilik peternakan memberi makanan manis kepada sapi-sapinya?  Ternyata langkah ini dilakukan agar daging sapi punya cita rasa yang unik.

Sapi-sapi di peternakan seluas 3,000 hektar ini adalah sapi wagyu impor dari Jepang. Mayura Station juga punya restaurant Wagyu sendiri. Seperti apa ya daging sapi dari sapi yang diberi makan cokelat?

 

 

 

SAPI MINUM ANGGUR

Apabila di Jepang sapi diberi minum bir atau Sake (minuman keras khas Jepang), makan di Perancis sapi diberi minuman anggur (wine). Alasannya sama, agar dagingnya lebih empuk.

Sebuah eksperimen di Lunel-Viel, Herault, Perancis membuktikan hal tersebut. Ada tiga ekor sapi yang diberikan minuman anggur lokal dengan barley dan hay. Lalu, apa hasilnya?

Menurut Jean-Charles Tastavy yang punya ide itu, sapi-sapi yang diberikan wine bisa menghasilkan daging berkualitas tinggi dan enak. Sapi-sapi tersebut juga menikmati wine. Tekstur daging sapi yang diberi minum wine juga lebih indah dan rasanya lebih empuk.

 

 

 

JAMU UNTUK SAPI

Karapan sapi adalah salah satu tradisi asal Pulau Madura yang sudah dikenal seluruh Indonesia. Warga Madura rela merogoh kocek demi memberikan yang terbaik untuk sapinya, terlebih jika sapi itu sapi balap.

H.Hamdan pemilik sapi yang menjarai karapan sapi Piala Presiden di Pamekasan pada 2015 punya cara agar sapinya kuat berlari. Dia memberika ramuan jamu dan 62 telur ayam kampung untuk sepasang sapinya itu, demikian menurut informasi dari Okezone.

Jadi setiap hari saya harus menyiapkan 62 butir telur ayam untuk jamu dua sapi ini. Selain itu Setan Balap (nama sapinya) tidak boleh dikawinkan sebelum memasuki masa pensiun karena akan mempengaruhi pada kecepatan larinya,” tutur Hamdan sebagaimana dikutip Okezone.

 

 

 

KTP DAN ASURANSI UNTUK SAPI

India yang mayoritas warganya beragama Hindu sangat menghormati sapi. Di salah satu negara bagian, sapi bahkan disediakan ambulan dan kartu identitas. Ternyata, perlakuan istimewa untuk sapi tidak hanya di India. Di Banyuwangi, Jawa Timur, sapi-sapi wajib punya kartu identitas seperti KTP elektronik untuk manusia dan asuransi.

Ide brilian ini dipamerkan dalam ajang Festival Inovasi 2019 yang berlangsung di Blambangan akhir Juni lalu. KTP sapi befungsi untuk memantau usia, riwayat kesehatan dan lainnya, demikian menurut Genpi.co.

Agar seekor sapi punya KTP, sang pemilik cukup membayar Rp 40,000 per tahun. Lalu, petugas peternakan akan melakukan pendataan terhadap hewan ternak tersebut. Acara ini bagian dari rangkaian Banyuwangi Festival 2019 yang menampilan banyak inovasi karya pelajar dan warga di berbagai bidang, dari kesehatan hingga seni.

 

 

 

TEKNOLOGI 5G UNTUK SAPI

Ini baru sapi jaman millenial yang tidak jauh dari teknologi.  Anda tentu pernah mendengar teknologi 5G, bukan?! Perkembangan teknologi tentu mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Bisa jadi nanti Anda bisa mengunduh dokumen sangat cepat, lalu semua pekerjaan dikerjakan robot. Namun, terbayang tidak jika sapi perah justru sudah menguji teknologi 5G?

Menurut laporan Endgadget April lalu, ada 50 sapi perah di Inggris menggunakan kerah khusus yang bisa mengendalikan sistem pemerahannya. Saat seekor sapi masuk tempat pemerahan, maka kerah canggihnya akan mengingatkan mesin untuk memompa. Cukup mudah bukan cara kerjanya?!

Pengembangan teknologi ini juga membuktikan bahwa jaringan 5G bisa mentransfer data antara sensor lebih cepat ketimbang broadband. Hebat bukan?

  • Ngopi Bareng Peternak Sapi Indonesia 2019 Ngopi Bareng Peternak Sapi Indonesia 2019
    Tak terasa kita sudah di penghujung tahun 2019. Bagaimana, masih punya semangat untuk bisnis sapi? Atau sudah mengambil keputusan untuk beralih pada bidang usaha lain? Bagi yang sudah cukup lama menekuni bidang usaha ini, sepertinya sulit untuk meninggalkannya begitu saja. Bisnis sapi sudah seperti "way of life", alias jalan hidup, karena banyak sekali suka dan duka yang dialami yang menjadikan kita seperti sekarang ini.  
    Read more...