Cari Sate Maranggi Terdekat Dengan Pusat Kota? Coba Disini!

Siapa yang tidak kenal dengan Sate Maranggi ? Kepopuleran dan citarasa kuliner yang satu ini tidak perlu diragukan lagi. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Bahkan Sate Maranggi menjadi salah satu dari delapan jajanan kaki lima favorit dunia versi CNN. Tidak percaya? Silahkan mencoba di kedai sate maranggi terdekat di kota anda...

Ketenaran Sate Maranggi utamanya berasal bumbu sate berupa rendaman aneka rempah dengan citarasa sangat kuat. Proses pengolahan Sate Maranggi memang berbeda dengan jenis sate lainnya. Bahan utama berupa daging harus diolah terlebih dahulu didalam bumbu sate atau disebut marination, sebelum ditusuk menjadi sate dan dimatangkan.

Resep bumbu sate untuk merendamnya terdiri dari kecap, cuka lahang (hasil olahan dari gula aren), air asam, serta bumbu-bumbu yang telah dihaluskan yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, ketumbar, serta garam.

Perpaduan aneka bahan dan bumbu inilah yang menciptakan rasa sensasional Sate Maranggi tanpa perlu ditambahkan saus pendamping seperti saus kacang atau bumbu kecap saat menyantapnya. Namun, dibalik kelezatan makanan enak ini, tak banyak orang yang bisa dengan pasti bercerita tentang asal usulnya.

Jika dirunut, ada sejarah panjang dan cukup menarik untuk disimak. Sate Maranggi sesungguhnya adalah kuliner hasil akulturasi dari berbagai unsur budaya, agama, serta geopolitik.

 

 

 

Asal Usul Sate Maranggi

Banyak kalangan yang meyakini bahwa Sate Maranggi adalah kuliner asli Indonesia yang berkembang di daerah Jawa Barat. Padahal, menurut penelitian para ahli kuliner,  Sate Maranggi adalah produk dari proses asimilasi dengan budaya China. Salah satu indikasinya adalah penggunaan bumbu sate berupa rempah yang sama persis dengan resep dendeng babi dan dendeng ayam yang terdapat di Hongkong, China, dan Taiwan.

Resep Sate Maranggi dibawa ke Indonesia oleh  para pendatang dataran China yang menetap ke Indonesia khususnya di daerah Jawa Barat, ditengah-tengah masyarakat Sunda. Pada perkembangannya kemudian terjadi asimilasi, yang semakin jelas terjadi setelah masuknya ajaran Islam di Nusantara.  Contohnya adalah penggantian bahan utama yang awalnya menggunakan daging babi,  dengan daging sapi yang halal menurut agama Islam.

Walapun sejarahnya sudah diyakini, asal muasal nama Sate Maranggi sendiri sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Menurut budayawan Sunda yang juga menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, nama tersebut tercetus dari nama seorang penjual sate bernama Mak Ranggi, yang berjualan sate maranggi terdekat dengan pusat kota Purwakarta, yaitu di daerah Cianting, puluhan silam.

Kelezatan sate olahan Mak Ranggi yang awalnya diberi nama Sate Panggang ini, selalu menjadi buah bibir masyarakat pada saat itu, sehingga setiap kali membicarakan sate tak pernah lepas dari sebutan Mak Ranggi yang akhirnya dilafalkan sebagai Maranggi.

Namun ada beberapa pendapat lain yang sempat menjadikan pembahasan menarik, karena ada dua gagrak Sate Maranggi yang terus berkembang hingga saat ini, yaitu versi Cianjur dan versi Purwakarta. Belum lagi pendapat jika memang asli Purwakarta, apakah berasal dari daerah Wanayasa atau Plered?.

Adalah Bustomi Sukmawirdja (65), yang lebih dikenal sebagai Mang Udeng,  yang meng-klaim nama Maranggi adalah "trade mark" dari olahan sate miliknya. Nama tersebut konon berawal pada tahun 1962, atau dua tahun setelah pernikahannya dengan Een (55). Ketika itu Mang Udeng mencoba mengadu nasib dengan berjualan sate maranggi terdekat yaitu di sekitar Pasar Plered, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.

Namun jumlah penjual sate kerbau atau sapi di pasar tersebut sudah cukup banyak. Agar bisa bersaing dengan penjual sate lainnya, Mang Udeng mencoba membuat sesuatu yang lain. Sate olahannya tidak menggunakan bahan baku berupa daging sapi atau kerbau, melainkan daging domba. Demikian juga dengan cara pengolahannya, Mang Udeng tidak langsung membakarnya, namun direndam dulu dengan aneka bumbu yang berbeda dengan sate pada umumnya.

Hasil olahan itu kemudian diberi nama Maranggi, yang artinya "daging domba yang telah dibumbui". Racikannya juga disebut sebagai "sari dari sebuah sate" karena berhasil memaksimalkan citarasa dari sate domba.

Sedangkan klaim bahwa sate maranggi berasal dari Wanayasa dikatakan oleh Mimin, cucu langsung dari Mak Uneh, seorang penjual sate yang awalnya disebut sebagai "Sate Panggang", yang kemudian di kenal sebagai sate Maranggi sejak tahun 1970.

Dengan begitu banyak klaim tentang asal usul kuliner tradisional ini, apa arti sebenarnya dari istilah sate maranggi terdekat dengan sejarahnya?

Pada kenyataannya, tak ada satu orangpun yang bisa menjelaskan dengan dasar yang kuat. Namun menurut kamus bahasa Sunda, Maranggi artinya daging sapi yang dipotong-potong dan ditusuk seperti sate kemudian di rebus. Jika berdasarkan kamus, kata tersebut lebih merujuk kepada sate maranggi khas Cianjur, yang dagingnya memang direbus terlebih dahulu dengan taburan ketumbar yang sangat banyak mirip empal.

Sedangkan Sate Maranggi Khas Purwakarta, dagingnya tidak dimasak melainkan  hanya dibalur dengan bumbu secara merata, baru kemudian ditusuk dan didiamkan beberapa saat.  Tapi terlepas dari keruwetan sejarahnya dan darimanapun asalnya, cita rasa manis dan gurih Sate Maranggi tetap memikat selera. Jika anda sedang berada di Bogor dan penasaran ingin mencobanya, silahkan berkunjung ke kedai sate maranggi terdekat dengan pusat kota, yaitu:

 

 

SATE MARANGGI DUNIASAPI

Jl. Achmad Adnawijaya (Pandu Raya) No.68, Tegal Gundil, Bogor Utara

Telp. 0811112227

Di tag dibawah

Kumpulan Ilmu Pengetahuan & Teknologi Untuk Peternak Sapi

Produk

  • Tips Menjaga Produk Susu agar Senantiasa Segar Tips Menjaga Produk Susu agar Senantiasa Segar
    Banyak dari anda yang mungkin suka dengan susu sapi. Produk peternakan tersebut memang kaya gizi dan menyehatkan. Citasanya pun sangat enak, apalagi di jaman sekarang ini mulai banyak sekali varian rasa yang bisa ditambahkan sehingga rasanya lebih segar. Namun demikian, susu sapi terbaik untuk dikonsumsi tetap susu sapi yang segar.
    Read more...
  • Tips dan Trik Jitu Memasak Lidah Sapi agar Empuk dan Tak Berbau Amis Tips dan Trik Jitu Memasak Lidah Sapi agar Empuk dan Tak Berbau Amis
    Bagian sapi yang satu ini sangat mudah ditemukan di pasar tradisional atau mungkin di supermarket karena banyak orang yang menggemarinya. Namun, tak banyak yang bisa mengolahnya.  Apabila tak dimasak dengan benar,  olahan lidah sapi cenderung alot (liat) dan keras. Tak hanya itu, terkadang juga timbul bau amis yang kuat.
    Read more...

Culture

marosok

"Marosok" Sumatera Barat: A Unique Transaction System in West Sumatra, Indonesia

What is Marosok Sumatera Barat? - A Special tradition in doing a transaction called marosok in West Sumatra is a unique way of transaction. The word marosok can be described as an activity of touching, feeling and holding something without seeing it but just trying to feel it using the brain and the feeling.

The tribe of Minangkabau is one of Indonesia’s ethnics which is famous for the ability of doing transaction. It is believed that they inherit the ability of their ancestors from the Melayu kingdoms where the people liked to trade. One of unique tradition is marosok Sumatera Barat, a technique of trading used in trading especially for the livestock such as cows or bulls.


Read More...

Tokoh