Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Suara Sapi Dapat Berubah Sesuai Kondisi Emosi

Menurut ilmu  fisika, bunyi atau suara adalah getaran yang merambat sebagai gelombang akustik, melalui media transmisi seperti gas, cairan atau padat. Sedangkan dalam fisiologi dan psikologi manusia, suara adalah penerimaan gelombang dan persepsi yang dapat diolah oleh otak yang salah satunya berfungsi untuk berkomunikasi antar sesamanya.

Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa cara berkomunikasi menggunakan suara secara bergantian dalam percakapan tidak hanya dilakukan oleh manusia tapi juga diseluruh kerajaan hewan termasuk sapi.

Namun, hanya gelombang akustik yang memiliki frekuensi antara 20 Hz dan 20 kHz, rentang frekuensi audio, yang menimbulkan persepsi pendengaran pada manusia. Di udara pada tekanan atmosfer, ini mewakili gelombang suara dengan panjang gelombang 17 meter (56 kaki) hingga 1,7 sentimeter (0,67 in).

Gelombang suara di atas 20 kHz dikenal sebagai USG dan tidak terdengar oleh manusia. Sedangkan gelombang suara yang bisa didengar oleh hewan berbeda, sesuai dengan spesiesnya.

Sebuah studi terbaru dari University of Sydney yang diterbitkan dalam Scientific Report, dilakukan dengan cara menganalisa 333 sampel suara sapi. Hasilnya semakin menguatkan penelitian terdahulu, bahwa sapi saling memberi tahu perasaan mereka kepada sapi lainnya melalui suara ‘moo’. 

Dilansir dari Independent (16/01/2020), ada perbedaan karakteristik suara ‘moo’ antara satu sapi dengan sapi lainnya. dan bisa berubah nada sesuai dengan kondisi emosinya.

Menurut Alexandra Green, penulis utama dari studi tersebut, bahwa setiap sapi memiliki identitas berdasarkan nada suara sapi yang dikeluarkannya.

Pada dasarnya hewan sapi memiliki sifat sosial sama seperti manusia yang suka berteman. Jadi, suara sapi digunakan untuk membantu mempertahankan kontak dengan kawanan dan mengekspresikan kegembiraan, gairah atau kesedihan yang sedang dialami.

Selain itu, hasil penelitian tersebut juga berhasil menilai kasih sayang antara ibu dan anak sapinya, perasaan sapi kepada lawan jenisnya selama periode aktif seksual, juga sebagai pemberitahuan kepada teman-temannya saat menolak makanan yang diberikan oleh peternak.  Termasuk kesedihan yang mendalam ketika dipisahkan dari kelompoknya. 

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu peternak agar dapat menyesuaikan dengan "kondisi emosional" sapi mereka. Sehingga produktifitasnya bisa meningkat.

Sumber: kompas.com