TRANSLATE

Tunggang Sapi , Tradisi Lama Yang Dihidupkan Kembali

Kegiatan tunggang sapi kembali dipopulerkan  oleh Paguyuban Gerobak Sapi Adem Ayem Boyolali sejak tiga tahun terakhir. Pelestarian budaya tersebut berdasarkan sejarah di era kerajaan dulu kala, di mana petani dan masyarakat banyak yang memanfaatkan sapi sebagai alat bantu angkut dan moda transportasi.

Sapi dinilai lebih kuat tenaganya untuk mengangkut hasil tani dan alat pertukangan. Kira-kira tenaganya sama dengan mobil pikap kalau dibandingkan dengan teknologi saat ini. Karena sejarah itu, akhirnya  dibentuklah  sebuah paguyuban yang berniat melestarikan budaya ini agar tidak hilang.

Seperti yang terjadi di Lapangan Manggis di Mojosongo, Boyolali, pada hari Sabtu (18/12/2021) pagi,tampak lebih  ramai dari biasanya. Tak hanya ramai manusia, di lapangan tersebut juga banyak sapi dengan gerobak maupun tanpa gerobak yang diikat ditepi lapangan.

Meskipun banyak sapi, namun itu bukanlah pasar jual beli sapi, melainkan festival tunggang sapi yang diselenggarakan oleh Paguyuban Gerobak Sapi Adem Ayem Boyolali. Seperti namanya, sapi-sapi itu dilatih agar bisa dimanfaatkan sebagai alat transportasi seperti laiknya kuda.

Para pengemudi gerobak sapi yang disebut bajingan tersebut saling mempertontonkan kehebatan sapi-sapi yang mereka latih. Aksi yang dilakukan tersebut pun berhasil menarik perhatian masyarakat sekitar yang banyak juga tertarik untuk ikut menjajal sensasi menunggangi sapi.