Loading...
iden

Uniknya Kesenian Sape Sono, Peragaan Sapi-sapi Cantik di Madura Ala Fashion Jaman Sekarang

Apa yang ada di benak Anda tentang sebuah pagelaran fashion jaman sekarang? Mungkin Anda akan membayangkan beberapa orang peragawati atau peragawan sedang memamerkan koleksi pakaian sembari berjalan di atas catwalk. Namun, siapa sangka rupanya fashion show kini tidak hanya saja menampilkan pasangan model dengan paras menawan dan tubuh yang semampai. Di Pulau Garam Madura, terdapat sebuah peragaan khusus sapi yang disebut Sapi Sonok atau Sapè Sono’.

Seperti halnya gelaran fashion jaman sekarang untuk manusia, peserta yang dipilih untuk diperagakan merupakan sapi-sapi berkualitas yang sudah dipilih dengan baik. Kriteria yang dijadikan pertimbangan berdasarkan fisiknya antara lain bobot, kemulusan tubuh, serta kebersihannya. Ciri-ciri kecantikan tersebut biasanya dilihat dari bentuk tubuhnya yang panjang, gemuk, serta memiliki bulu yang kemerahan.

Sapi yang diikutkan dalam festival ini haruslah yang berasal dari jenis betina. Tak sembarangan, para sapi yang akan diikutkan dalam lomba ini akan dimandikan dengan shampo khusus agar bulunya mengkilat. Tak ketinggalan, pemilihan pakannya pun dilakukan dengan seksama agar mendapatkan bentuk fisik yang ideal.

Untuk penambah stamina, para peserta hewan sape sonok akan diberikan sebuah ramuan khusus dari 25 butir telur ayam kampung yang dicampurkan dengan beberapa bahan, seperti kunyit, santan, gula merah, madu, bawang, dan beberapa tanaman lainnya. Dosis ramuan tersebut akan ditingkatkan dua kali lipat jelang sepekan sebelum acara. 

Sapi yang dipilih untuk ikut dalam event lokal di Madura ini biasanya memang sudah dipilih dan dirawat semenjak lahir. Oleh karena itu, mustahil seekor sapi betina akan diikutlombakan begitu saja saat sudah beranjak dewasa.

Gelaran acara Sape Sono lebih banyak diadakan di daerah kabupaten Sumenep dan juga Pamekasan. Di Sumenep sendiri, penyelenggaraannya lebih banyak diadakan di Kecamatan Lentang. Pada event tahunan Festival Kemilau Madura, gelaran acara yang satu ini menjadi salah satu pertunjukan yang sangat menarik di mata wisatawan di samping karapan sapi.

Berbeda dengan kerapan sapi yang merupakan sebuah ajang adu kekuatan fisik, sapi-sapi di sape sonok justru akan diadu soal kecantikan dan dandanannya, seperti fashion jaman sekarang. Dari segi penggemar, gelaran acara sape sono boleh dibilang lebih banyak disukai. Hal ini disebabkan, pengadaan karapan sapi membutuhkan biaya yang lebih banyak. Selain itu, menilik dari segi keamanan, sape sono’ sangat minim resiko jika dibandingkan dengan karapan sapi. Namun begitu, dahulunya sape sono akan dijadikan pembukaan dengan istilah ‘sapi pajangan’ sebelum memulai kerapan sapi sebagai acara intinya.

Di samping tuntutan untuk memiliki fisik yang sempurna, sapi-sapi yang ikut serta dalam Sapi Sonok juga sudah terlatih untuk terbiasa berada di kerumunan orang banyak. Aspek penilaian pertama yang perlu dilihat adalah bagaimana sapi-sapi tersebut berdiri dengan tegak dan anggun. Kesenian Sape Sono bukan hanya soal mengadu keindahan fisik dari sapi-sapi betina saja, tetapi juga mengadu kekompakan antar pasangan.

Aspek penilaian lainnya adalah saat sapi berjalan dengan cara dipasang-pasangkan. Keserasian dalam melangkah merupakan hal yang penting dalam hal ini. Sapi-sapi bahkan akan diuji untuk mengangkat dan memasukan kaki mereka ke dalam papan-papan yang sudah disediakan.

Penilaian lainnya juga akan dilihat saat sapi melewati gawang berbentuk gapura yang dibuat pas dengan tubuh sapi. Para peserta berkaki empat tersebut harus naik dan berhenti tepat pada papan yang disediakan. Apabila mereka melewati papan atau dalam keadaan mengangkat kaki, maka nilainya akan dikurangi. Selain itu, nilai juga akan dikurangi jika tubuh mereka menyenggol gapura.

Sebelum memasuki acara inti, biasanya para pemilik sapi akan melakukan pembukaan dengan mengiringi langkah para sapi sembari menari diiringi saronen–alat musik khas Madura. Menariknya saat para sapi berjalan, seolah-olah mereka ikut berlenggak lenggok mengikuti alunan musik. Penampilan para hewan memamahbiak tersebut semakin molek dengan penambahan aksesoris berwarna merah, hijau, hingga keemasan bak perhiasan yang menghiasi sekujur tubuh mereka.

Menurut asal muasal katanya, Sono sendiri berasal dari kata “srono” atau “nyrono” yang dalam bahasa Madura berarti “masuk”. Kata ini berkaitan dengan budaya sopan santun dalam menyambut tamu yang bertandang ke rumah. Oleh karena keterkaitannya, gelaran ini sering dihadirkan dalam berbagai acara hajatan seperti pernikahan dan khitanan.

Mayoritas penduduk Madura kala itu memang merupakan petani. Sapi-sapi betina mulai dilirik untuk dimanfaatkan dalam menarik sebuah alat bajak bernama nangghale. Dalam pekerjaan membajak, para sapi betina biasanya akan disandingkan satu sama lain.

Disebutkan bahwa sejarah Sape Sono’ berasal dari kebiasaan para petani di Kabupaten Pamekasan yang biasa memandikan sapi-sapi tersebut selepas bekerja di ladang. Setelahnya sapi akan dijejerkan dengan diikatkan pada sebuah tonggak kayu. Biasanya para pemilik akan bersantai sejenak sembari mengamati hewan-hewan berkaki empat miliknya tersebut.

Kesenian Sape Sono’ sendiri rupanya tidak hanya selalu berkutat pada kegiatan menikmati kesempurnaan fisik dari sapi. Bentuk budaya yang satu ini juga mampu membuat ternak sapi memiliki nilai jual yang tinggi. Pengadaan yang dilakukan dapat memacu peningkatan produktivitas pada hewan ternak sapi. Tak jarang, negosiasi dalam jual beli juga berlangsung diantara para pengunjung yang berdatangan.

Anemia Berat Pada Sapi Adalah Dampak Dari Penyakit Mubeng

Salah satu penyakit yang cukup sering menyerang ternak sapi adalah penyakit surra (trypanosomiasis) atau biasa disebut penyakit sapi mubeng (sempoyongan). Parasit dari penyakit ini hidup dan berkembang di dalam darah induk semang dengan mengambil glukosanya, akibatnya kadar glukosa dalam darah akan turun. Tentu ketika glukosa dalam darah menurun, kondisi tubuh ternak akan menurun dan berpengaruh pada hal-hal lainnya seperti hilangnya nafsu makan, mudah letih hingga anemia berat.

Sapi Bermuka Dua Milik Pengusaha Sukses Di Bidang Peternakan Ini Dipelihara Dengan Penuh Kasih Sayang

Mutasi genetik adalah satu peristiwa yang bisa terjadi secara alami pada hewan. Prosesnya ditandai dengan kelainan pada fisik. Karena berbeda struktur dengan gen pada umumnya, sebagian besar hewan yang mengalami mutasi genetik akan mati di dalam rahim. Sebagian kecil yang lahir pun hanya mampu bertahan hidup beberapa hari saja.

Australia Feels Threatened by The Model of Meat Selling Through Social Media in Indonesia

Nowadays, people can buy anything using social media such as Instagram to fulfill your needs without going to the store directly. You can buy anything including meat. However, this selling model can disturb the trade of Australian cattle traditionally. This worry is delivered right away by the entrepreneur who has the Australian cow trade, Jimmy Halim. Indonesian people prefer chicken which is freshly cut from the traditional market right away.