TRANSLATE

Serba-serbi Bisnis Keripik Paru Sapi

“Jeroan” adalah istilah yang diberikan bagi olahan makanan dari organ dalam suatu hewan. Di Indonesia, jeroan cukup populer dan digunakan dalam berbagai bahan masak, mulai dari masakan santai seperti bubur, soto, campuran untuk nasi goreng, nasi uduk, hingga menjadi menu utama pendamping nasi.Jeroan dapat menjadi alternatif untuk lauk daging karena berbagai hewan lazim dikonsumsi jeroannya, kecuali ikan. Salah satu jeroan favorit masyarakat Indonesia adalah paru sapi.

Selain terkenal dengan cemilan enting-enting gepuk, Kota Salatiga, Jawa Tengah, tersohor dengan pembuatan keripik paru sapi. Makanan ringan keripik paru dari Kota Salatiga itu kerap menjadi incaran buah tangan oleh wisatawan yang datang ke kota yang berada di lereng gunung Merbabu itu.

Pelanggannya  datang dari kota Yogyakarta, Tangerang, Bandung, serta Jakarta.  Harga keripik paru dalam kisaran Rp 80.000 per kilogram (kg). Harga keripik paru dalam kemasan dengan ukuran lebih kecil (1/4 kg) Rp 25.000. Adapun keripik yang dikemas dalam kaleng dan berbobot 1,35 kg dijual dengan harga Rp 145.000.

Untuk mengolah kerupuk paru, para pelaku usaha keripik itu mendapat pasokan bahan baku dari rumah pemotongan sapi di Salatiga. Mereka  kompak mencari bahan baku paru sapi dari daerah mereka sendiri, menghindari membeli paru sapi dari kabupaten tetangga seperti Boyolali. Karena khawatir paru sapi daerah lain bersumber dari sapi glongongan, Sapi glonggongan adalah sapi yang diberi minum sebelum disembelih, untuk menaikkan bobot.

Harga  paru segar berkualitas, sekitar Rp 40.000 per kg, Produden paru skala besar butuh sekitar 50 kilogram paru setiap hari. Mereka bisa mengenali paru bermutu baik dari warna dan kekeringan paru, yaitu yang bagus berwarna jambon (merah muda) cerah, dan tidak mengandung air.

Dari setiap 50 kg paru yang dibeli, yang bisa terolah hanya setengah. Sebab, terjadi penyusutan paru selama proses produksi. Sebelum digoreng dan dicampur tepung bumbu, paru harus direbus dahulu. Setelah direbus, paru kemudian diiris tipis agar renyah saat dikonsumsi. Ketebalan paru harus diperhatikan agar bia mendapatkan keripik paru yang  renyah.

Kendala dari pembuatan keripik paru itu adalah harga bahan bakar gas elpiji dan minyak tanah yang mahal. Oleh karena itu para produsen ini  memilih menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Selain murah, penggunaan kayu bisa memberikan efek harum pada keripik.