RAGAM INFORMASI

TENTANG DUNIA PERSAPIAN

Hati-hati Memberikan Pakan Pada Sapi Bali Siapa Tahu Ada Tanaman Hias Beracun Yang Terselip

Sapi Bali membutuhkan pakan hijauan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Yang disebut sebagai pakan hijauan adalah tanaman atau bagian tanaman yang disukai oleh ternak sebagai makanannya, Contohnya adalah jenis rerumputan, kacang-kacangan, dan dedaunan yang tidak termasuk keduanya, bahkan termasuk beberapa jenis tanaman hias seperti Indigofera dan krokot.

Namun jika anda adalah peternak Sapi Bali, berhati-hatilah dengan tanaman hias jenis Lantana. Lantana adalah tumbuhan asli Indonesia yang memiliki beberapa nama, antara lain telekan, saliara, tembelekan, cente manis atau sasahangan.

Lantana ada 2 macam yaitu Lantana acuelata L dan Lantana camara L. Jenis yang kedua banyak tumbuh disemak-semak, ladang atau lahan kering, juga di pematang-pematang sawah. Lantana camara adalah tanaman indikator lahan kritis, karena sangat mudah tumbuh dan mampu beradaptasi di lahan kering.

Lantana camara inilah yang harus diwaspadai, karena termasuk tanaman hias yang beracun, dan kerap termakan oleh sapi Bali yang digembalakan di lokasi tersebut. Akibatnya, Sapi Bali langsung terserang penyakit yang disebut sebagai Bali Ziekte. Peternak biasanya tidak tau jika Sapi Bali peliharaannya telah terkena penyakit ini, karena gejalanya memang tidak begitu terlihat. 

Padahal pada kondisi awal, sapi akan demam, pucat, mata berlendir dan hidung mengalami peradangan. Jika didiamkan bisa menjadi luka-luka dangkal yang tertutup, berupa eksim yang akan mengering kemudian mengelupas menyerupai kerupuk meninggalkan luka semakin dalam

Efek tanaman hias yang beracun ini  akan berlanjut dengan  menyerang bagian-bagian tubuh sapi yang tidak ditumbuhi bulu atau yang bulunya jarang, serta  kulit yang sedikit atau tidak berpigmen yang terus menerus terkena sinar matahari. Seperti pada bagian telinga, muka, punggung, perut, paha bagian dalam, scrotum, dan pantat.

Pada awalnya, luka tampak simetris dibagian kanan dan kiri pada organ yang sama. Kemudian semakin meluas karena dijilat-jilat oleh sapi untuk menghilangkan rasa gatal yang timbul. Ketika luka-luka tersebut terkena panas matahari secara langsung, akan menjadi koreng yang mengelurkan cairan bahkan bernanah.

Dalam waktu sebentar saja akan muncul larva dari lalat yang bertelur pada luka tersebut, keadaan ini tentu saja semakin memperparah keadaan.  Oleh sebab itu, jika Sapi Bali peliharaan anda menunjukan gejala penyakit akibat tanaman hias yang beracun tersebut,  harus langkah cepat dengan memindahkannya ke tempat yang teduh agar terhindar dari paparan panas matahari secara langsung.

Beri air minum dan pakan yang cukup, lebih bagus lagi jika diberi minum air kelapa untuk menetralisir racun dari Lantana camara. Kemudian luka yang timbul diolesi dengan salep dan dijaga kebersihannya agar tidak terjadi infeksi. Jika tidak memungkinkan melakukan penanganan sendiri, segera hubungi Dokter Hewan praktek terdekat.

Referensi :

  • Sinar Tani Edisi 7 13 Januari 2015 No. 3589 Tahun XLV
  • Bahri, S. 1994. Fotosensitisasi dan Penanggulangannya pada Ternak Ruminansia. Wartazoa 3 (2-4) : 13 – 16.

 

 

Sejarah Sapi Belgian Blue yang Jadi Harapan Swasembada Daging

Sejarah Sapi Belgian Blue tak jauh berbeda dari kisah pembiakan wagyu, sapi yang sangat terkenal dari Jepang. Bedanya, jika wagyu tenar berkat kandungan lemak putih atau marblingnya, maka Sapi Belgia ternar berkat otot menonjol bak binaragawan. Baca selengkapnya...

Sapi Belgian Blue Harganya Berapa?

Sejak beberapa tahun lalu pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mengembangbiakkan sapi berjenis belgian blue. Sapi satu ini disebut-sebut termasuk jenis sapi unggul dengan harga jual yang tinggi. Sapi belgian blue merupakan sapi yang berasal dari Belgia Tengah, Belgia. Sapi Belgia adalah hasil proses panjang kawin silang dan “selective breeding” selama hampir 200 tahun dari pengembangan hasil “cross breeding” sapi Durham Shorthorn dari Inggris dan Friesian… Baca selengkapnya...

Penyakit Demam Tiga Hari Pada Sapi, Meski Ringan Namun Merugikan

Nyamuk ternyata tidak hanya mengisap darah manusia, tetapi juga hewan ternak seperti sapi. Tak sekedar mengisap darah, nyamuk tersebut juga menularkan Penyakit Demam Tiga Hari pada sapi, atau dalam Bahasa ilmiahnya disebut sebagai Bovine Ephemeral Fever (BEF), dan dalam Bahasa Inggris sebagai Three Days Sickness. Banyak juga peternak yang menggunakan istilah gomen untuk menyebut penyakit ini. Meski tidak terlalu berat, penyakit ini dapat membuat kerugian cukup besar pada peternak sapi, karena… Baca selengkapnya...

Memilih Model Kandang Sapi Perah Yang Cocok Dengan Cuaca Di Indonesia

Akhir-akhir ini, cuaca di Indonesia semakin gerah. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut secara meteorologis disebabkan suhu udara yang meningkat disertai dengan kelembapan udara yang tinggi. Berdasarkan pencatatan meteorologis yang dilakukan BMKG, suhu tertinggi terjadi di Sentani, Papua. Baca selengkapnya...